21 desember 2010 mahasiswa psikologi UIN Sunan kalijaga semester 5 melakukan observasi yang bertemakan “malioboro”. Dalam hal ini, kami secara khusus melakukan observasi tentang perilaku maupun tatanan masyarakat dalam lingkup lingkungan malioboro. Ada banyak fenomena menarik yang dapat ditemui dalam malioboro, bagaimana tempat itu menjadi salah satu yang menjadi pusat perekonomian yogyakarta, menjadi salah satu tujuan dari kunjungan wisatawan domestik maupun luar negeri, serta menjadi bagian dari sejarah kota jogja istimewa.
Dalam kesempatan itu, saya mewancarai seorang pedagang kerajinan yang terletak disepanjang jalan Malioboro. Sebut saja namanya ibu Mira, beliau tinggal di Bantul. Beliau sudah cukup lama berdagang disitu dan banyak tahu tentang Malioboro. Ibu Mira berdagang sejak tahun 1999. Beliau adalah seorang sarjana IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN) jurusan komunikasi dan penyiaran islam lulusan tahun 1991.
Ibu Mira memperoleh barang dagangannya melalui suatu pusat produksi kerajinan yang terletak di Bantul. Industri kerajinan ini bersifat Home Industri dan dikelola bersama-sama oleh ibu-ibu setempat yang dibantu anak-anak mereka. Banyak variasi yang dihasilkan oleh industri ini sehingga banyak pilihan untuk menikmati keindahan karya mereka. Sebenarnya konsep kerajinan yang mereka hasilkan adalah hasil dari kreatifitas anak-anak ISI Yogyakarta. Mereka telah lama bekerja sama dengan ibu-ibu dan warga setempat untuk membuat kerajinan yang dapat dimanfaatkan serta dapat menjadi mata pencaharian masyarakat dan mengurangi jumlah pengangguran.
Sebenarnya pedagang kerajinan yang ada disepanjang jalan Malioboro tidak hanya ibu Mira, banyak dari pedagang itu juga memperoleh hasil kerajinan dari lokasi yang sama. Kerajinan yang dipasarkan diletakkan dalam sebuah gudang di belakang salah satu toko yang ada dijalan Malioboro. Setiap pagi ibu Mira berangkat pagi dari Bantul menuju Malioboro dan langsung ke gudang penyimpanan kerajinan. Disitu terdapat seseorang yang bertugas sebagai penjaga gudang, pembawa barang kerajinan dan tukang sapu. Tiap pedagang membayar mereka setiap hari. Sekali angkut sekitar 10ribu rupiah. Tidak hanya itu, mereka juga rutin membayar pada petugas penjaga Malioboro setiap seminggu sekali.
Pertama kali menemui pedagang itu saya menyamar sebagai seorang pembeli dan hendak mencari kerajinan. Ketika itu saya bertanya pada ibu Mira harga gelang (dengan bahasa indonesia), Kala itu 3 gelang harganya Rp. 20.000,- kemudian setelah banyak bertanya dan kemudian tahu bahwa ibu Mira adalah orang Yogyakarta asli dan mengetahui saya orang Purworejo kami melanjutkan bercakap-cakap dengan bahasa jawa. Ibu itu mengatakan “waah... la ra ngomong wet mau nek wong purworejo?” Kemudian harganya turun drastis, 4 gelang hanya Rp. 10.000,- . Ternyata tarif yang dipasang untuk tiap kerajinan berbeda untuk tiap pelanggan. Orang jawa asli pastinya bisa memperoleh dengan harga yang murah apalagi jika ditawar. Sedangkan orang yang terlihat elit memperoleh harga hingga 2 kali lipat, wisatawan asing bahkan dipatok tarif hingga 4 kali lipat.
Senin, 14 Maret 2011
Jumat, 21 Mei 2010
“EFEKTIFITAS PELATIHAN PENGENALAN DIRI TERHADAP PENINGKATAN PENERIMAAN DIRI DAN HARGA DIRI”
1. Latar belakang
Salah satu cara untuk mencapai tujuan hidup adalah dengan cara lebih mengenal diri sendiri, yaitu apakah kekuatan-kekuatan diri dan apakah kelemahan-kelemahan diri. Dengan demikian kita bisa menyadari “siapa saya” dan “saya ingin menjadi siapa”, merupakan dasar berpihak dalam menghadapi permasalahan. Kalau seseorang sudah mampu memahami dirinya sendiri maka dia akan mampu mengendalikan setiap permasalahan yang dihadapinya. Kalau ditinjau dari segi kesehatan mental seseorang yang sudah mampu menerima dirinya sendiri apa adanya dan mampu menjaga harga dirinya dengan baik maka hal tersebut dianggap sebagai bagian dari mental yang sehat. Karena seseorang yang sudah bisa menerima dirinya apa adanya merupakan bagian dari ciri pribadi yang sehat. Selain memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah, mempunyai tanggung jawab, kemandirian dalam menentukan hidup, sikap positif terhadap dunia sekelilingnya, berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin, dan menunjukkan kecenderungan kearah yang semakin matang.
2. Rumusan Masalah
Apakah pelatihan pengenalan diri efektif untuk meningkatkan penerimaan diri dan harga diri?
3. Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh pengenalan diri terhadap penerimaan diri dan harga diri
4. Landasan Teori
Pengenalan diri merupakan salah satu cara untuk membantu individu memperoleh self-knowledge dan self-insight yang sangat berguna bagi proses penyesuaian diri dengan baik dan merupakan salah satu kriteria mental yang sehat. Pengetahuan tentang diri ini akan mengarah pada self-objectivity dan self-acceptance.
Penerimaan diri adalah sejauh mana seseorang dapat menyadari dan mengakui karakteristik pribadi dan mengunakannya dalam menjalani kelangsungan hidupnya.
Penerimaan diri berkaitan dengan konsep diri seseorang dengan konsep diri yang positif. Seseorang dengan konsep diri yang positif dapat memahami dan menerima fakta-fakta yang begitu berbeda dengan dirinya, orang dapat menyesuaikan diri dengan seluruh pengalaman mentalnya sehingga evaluasi tentang dirinya juga positif (Calhoun dan Acocella, 1990).
Jika membicarakan evaluasi diri berarti membicarakan self dari componen afektif yaitu harga diri. Harga diri dikatakan coopersmith (dalam Hidayati, 1995) sebagai evaluasi individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengpresikan sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat individu meyakini dirinya sendiri sebagai mampu, penting, berhasil dan berharga.
5. Landasan Hipotesis
Penerimaan diri dan harga diri subjek kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum mendapatkan eksperimen.
6. Metode Peneltian
a. Batasan Operasional dan Pengukuran Variabel
1). Identifikasi Variabel
a). Variabel Independen (X) : Pelatihan pengenalan diri
b). Variabel Dependen (Y) : Penerimaan diri dan harga diri
2). Definisi Operasional
a). Penerimaan diri adalah sejauh mana seseorang menerima karakteristik personalnya dan menggunakannya untuk menjalani kelangsungan hidupnya. Variabel ini diungkapkan dengan skala penerimaan diri.
b). Harga diri adalah evaluasi yang dibuat individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengekspresikan suatu sikap setuju atau idak setuju dan menunjukkan tingkat dimana individu itu meyakini dirinya sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga. Variabel ini diungkap dengan skala harga diri.
c). Pelatihan pengenalan diri merupakan bentuk pelatihan yang disusun untuk membantu individu dalam mengenali dirinya melalui proses pengungkapan diri dan umpan balik. Metode yang digunakan adalah ceramah, permainan, diskusi dan introspeksi.
3). Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa fakultas psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang mempunyai kategori harga diri rendah dan sedang.
7. Hasil
Berdasarhan hasil uji statistika dan hasil ungkapan subjek selama pelatihan ini maka pelatihan pengenalan diri efektif untuk meningkatkan penerimaan diri dan harga diri
8. Kesimpulan
Dengan demikian pelatihan pelatihan pengenalan diri ini sangat efektif untuk meningkatkan penerimaan diri dan harga diri sebagai upaya untuk menjadikan mental seseorang sehat.
Rabu, 05 Mei 2010
Konsentrasi dalam Belajar (Penelitian Lapangan)
Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang telah di lakukan di kelas 1PA01,terdapa sekitar 40% mahasiswa yang konsentrasi belajarnya baik hingga pelajaran berakhir.Sedangkan 60% lainnya konsentrasi belajarnya terpecah.Hal ini kemungkinan disebabkan karena ketidakpahaman atas mata kuliah yang di ajarkan.Mahasiswa merasa bosan karena mata kulia tersebut tidak disenanginya,atau karena terlalu lama duduk dan berada di ruang kelas yang menyebabkan ketidaknyamanan mereka berada di dalam kelas.Kemudian untuk mengalihkan kejenuhan mereka saling mengobrol satu sama lain,melakukan hal-hal yang dapat menghibur dan memberi kesenangan tersendiri pada diri mereka.Misalnya menggambar atau mencoret-coret buku.Walter Pauk,seorang penulis dalam kutipannya mengatakan ” kekuatan semata-mata tidak mencukupi untuk membuat mahasiswa sanggup berkonsentrasi”
Langganan:
Postingan (Atom)